Cari Blog Ini

Pengikut

Laman

Rabu, 02 Januari 2008

Libigel - Viagra Untuk Wanita




Libigel, Viagra untuk Wanita

Charlottesville, Selasa - Bukan rahasia lagi bahwa sekarang banyak kaum pria yang membutuhkan bantuan obat-obatan untuk memperbaiki kemampuan seksualnya. Obat-obatan seperti Viagra atau Vasomax misalnya, kini banyak digandrungi karena khasiat serta kepraktisannya.

Pada perkembangannya, obat-obatan untuk memperbaiki fungsi seksual tak sebatas untuk kebutuhan kaum Adam semata. Kini, para ahli pun tengah berupaya untuk mengembangkan obat-oabtan yang dapat memperbaiki fungsi seksual kaum wanita.

Seperti dilaporkan AP, Selasa (1/1), para peneliti di Universitas Virginia (UVa) Amerika Serikat kini sedang menguji coba sejenis obat yang berfungsi memperbaiki kemampuan seksual seperti halnya Viagra pada pria.

Obat baru ini bernama LibiGel, berbentuk gel dengan kandungan utama testosteron. Para ahli menciptakan obat ini guna meningkatkan rangsangan atau libido pada wanita yang kehilangan gairah dalam berhubungan seks.

Dalam beberapa bulan ke depan, Libigel akan direkomendasikan bagi wanita penderita kehilangan gairah yang disebut hypoactive sexual desire disorder . Menurut catatan, gangguan seks ini dialami oleh hampir sepertiga kaum Hawa di Amerika Serikat.

"Gangguan ini merupakan masalah seksual yang banyak dialami wanita," ungkap Dr. Anita Clayton, seorang psikiatris dari UVa Health System dan penulis buku "Satisfaction: Women, Sex and the Quest for Intimacy."

Universitas Virginia sendiri bersama 99 institusi medis lainnya berpartisipasi dalam pengujian khasiat serta keamanan obat ini. Jika mendapat lampu hijau dari FDA (Food and Drug Administration), perusahaan BioSante Pharmaceuticals Inc di Illinois akan segera melempar obat ini ke pasaran.

Untuk saat ini, kata Clayton, pihaknya masih menggelar riset nasional yang melibatkan sekitar 25 wanita berusia 30 dan 65. Para wanita ini adalah mereka yang telah kehilangan kedua ovarium (indung telur) melalui proses operasi ovariektomi. Mereka sejauh ini hanya mengonsumsi suplemen estrogen dan mengalami stress akibat rendahnya libido.

Ovariektomi memang dapat mengakibatkan gairah seksual menurun karena indung telur hanya memproduksi hormon testosteron dalam jumlah setengah dari biasanya. Padahal, testosteron pun memegang peranan penting dalam fungsi seksual pada tubuh wanita.

LibiGel sendiri rencananya akan dipasarkan dalam bentuk botol yang dipompa. Wanita hanya tinggal memakainya sedikit saja dan mengoleskannya pada lengan bagian atas.

Dalam 24 jam, gel ini akan menyerap dalam pembuluh darah untuk kemudian memicu energi dan gairah (libido) wanita. Clayton, yang juga terlibat dalam riset di UVa, mengatakan obat ini lebih baik ketimbang jenis terapi testosteron sebelumnya. Ini dikarenakan LibiGel dapat mempertahankan kandungan kimianya secara konstan, seperti halnya pada testosteron alami.

Pada tahap kedua ujicoba klinis di 7 institusi, LibiGel terbukti dapat meningkatkan kepuasan hubungan seksual hingga 283 persent pada wanita yang memakai obat ini. (AP/AC)

Reksa Dana Masih Menjanjikan

Instrumen Investasi
Reksa Dana Masih Menjanjikan

oleh: Joice Tauris Santi

Aset industri reksa dana meningkat pesat sepanjang tahun 2007. Pada awal Januari 2007, asetnya masih Rp 51,6 triliun dan menjelang akhir tahun sudah Rp 91,5 triliun. Sebelumnya, tahun 2005, aset industri reksa dana sempat mencapai titik tertinggi sebanyak Rp 110 triliun pada bulan Februari.

Sayangnya, karena gejolak harga obligasi ditambah dengan kesalahan jual dari agen penjual, asetnya menyusut drastis menjadi Rp 28 triliun pada Desember 2005.

Hingga dua tahun setelah kejadian tersebut, aset reksa dana belum juga kembali ke titik tertingginya. Walaupun demikian, sudah ada percepatan kenaikan aset yang cukup besar pada tahun ini.

Selain peningkatan pesat tahun ini, komposisi di antara jenis-jenis reksa dana juga sudah seimbang. Tahun 2005, 85 persen aset reksa dana adalah pendapatan tetap atau obligasi.

Sisanya barulah terbagi menjadi reksa dana jenis campuran, saham, pasar uang, dan pendatang baru reksa dana terproteksi. Komposisi yang tidak sehat ini juga menjadi salah satu penyebab merosotnya aset reksa dana ketika pasar obligasi terguncang pada tahun 2005.

Penguatan harga saham sepanjang tahun lalu dan semakin mengertinya investor mengenai investasi jangka panjang menjadi faktor peningkatan porsi reksa dana saham.

Sepanjang tahun 2007, indeks saham telah naik sekitar 50 persen. Beberapa manajer investasi yang mengelola reksa dana saham bahkan dapat memberikan tingkat imbal hasil lebih dari 50 persen.

Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Abipriyanto mengatakan, komposisi yang semakin imbang ini untuk industri reksa dana. Di Amerika Serikat, misalnya, sebagian besar aset reksa dana adalah reksa dana saham yang merupakan investasi jangka panjang.

Kesadaran menempatkan dana pada instrumen investasi jangka panjang tidak hanya menggugah para investor perorangan, melainkan juga investor institusi, seperti asuransi dan dana pensiun.

Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Eddy Praptono mengatakan, keinginan untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi memang ada di kalangan dana pensiun yang selama ini konservatif dan menempatkan sebagian besar dananya pada deposito.

Tantangan tahun 2008

Apakah penempatan investasi dalam reksa dana masih akan membuahkan hasil sebagus tahun 2007 merupakan pertanyaan setiap investor maupun calon investor reksa dana. Tingginya harga minyak akan memicu peningkatan harga energi dan akhirnya menyebabkan kenaikan harga yang pasti akan ditanggung konsumen.

Selain itu, semakin tingginya biaya produksi akan mengurangi margin keuntungan, juga mengurangi pendapatan dan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Akhirnya, kemungkinan laju kenaikan harga saham-saham akan tersendat.

"Dari sisi pengelolaan portofolio investasi, tingginya harga minyak menjadi tantangan untuk melakukan rebalancing portofolio dengan memanfaatkan peluang positif pada sektor-sektor yang mengalami dampak positif atas kenaikan harga minyak dan mengurangi bobot pada sektor yang terpengaruh secara negatif," kata Presiden Direktur Fortis Investment Eko Pratomo.

Eko menambahkan, ia masih berharap kinerja maupun pertumbuhan reksa dana saham akan tetap positif, tetapi akan sulit menyamai kinerja tahun 2007. Selalu ada faktor risiko, salah satunya tingginya harga minyak. Oleh karena itu, investor tetap perlu melihat investasi pada saham sebagai investasi jangka panjang untuk mengurangi risiko kerugian karena fluktuasi harga dalam jangka pendek.

Eko memperkirakan, tahun 2008 aset reksa dana saham mungkin masih bisa tumbuh di atas 50 persen, jika minat investor mengalihkan sebagian investasinya untuk jangka panjang ke saham masih cukup besar karena tren penurun tingkat suku bunga masih berlangsung.

Reksa dana baru

Setelah jenis reksa dana berkembang menjadi reksa dana indeks, reksa dana terproteksi dan exchange traded fund (ETF/reksa dana indeks yang diperjualbelikan di bursa) tahun 2008, industri reksa dana juga akan diramaikan dengan jenis reksa dana baru, yaitu reksa dana dengan tujuan khusus.

Investasi reksa dana dengan tujuan khusus tidak hanya terbatas pada aset-aset yang tercatat di pasar modal saja, seperti saham perusahaan tercatat atau obligasi. Reksa dana dengan tujuan khusus ini diperkenankan berinvestasi pada proyek-proyek bahkan komoditas melalui resi gudang.

"Reksa dana jenis ini ditujukan untuk investor yang sophisticated, investor yang sudah mengetahui risiko-risiko investasi. Risiko yang dikandung reksa dana jenis ini lebih tinggi," ujar Kepala Biro Pengelolaan Investasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Djoko Hendratto.

Direktur Utama Kliring Penjaminan Indonesia Surdiyanto menambahkan, reksa dana bertujuan khusus kelak dapat pula menjadikan komoditas yang tersimpan dalam resi gudang menjadi asetnya.

"Misalkan jika Bulog memerlukan dana untuk pengadaan beras, dapat mencari dana dengan agunan resi gudang. Atau perusahaan perkebunan mencari dana dengan agunan olein atau minyak sawit mentah," ujarnya.

Saat ini pembicaraan mengenai kolaborasi antara pasar modal dan pasar komoditas dalam reksa dana bertujuan khusus sedang dibicarakan.

Pengangguran Terbuka Turun

BPS: Pengangguran Terbuka Turun

KCM, JAKARTA,RABU - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka pengangguran terbuka pada Agustus 2007 mencapai 10,01 juta orang atau turun sekitar 8,42 persen dari 10,93 juta orang pada Agustus 2006, dan turun 5,08 persen dari 10,55 juta orang pada Februari 2007.

Deputi BPS Bidang Statistik Sosial, Arizal Ahnaf, di Jakarta, Rabu (2/1), mengatakan, berdasarkan Survei Ketenagakerjaan Nasional (Sakrernas) 2007 pada 278 ribu rumah tangga, jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2007 mencapai 99,93 juta atau naik 4,68 persen dari jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2006 sebanyak 95,46 juta orang.

Angka penduduk bekerja itu naik 2,40 persen dari Februari 2007 sebanyak 97,58 juta orang. "Tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2007 mencapai 9,11 persen, mengalami penurunan dibandingkan pada Februari 2007 sebesar 9,75 persen, dan Agustus 2006 sebesar 10,28 persen," kata dia pula.

Sedangkan jumlah angkatan kerja pada Agustus 2007 mencapai 109,94 juta orang, naik 3,33 persen dari jumlah angkatan kerja pada Agustus 2006 (106,39 juta orang) dan naik 1,67 persen dari Februari 2007 (108,13 juta orang).

Dari sisi gender, katanya, penurunan penganggur terbesar terjadi pada perempuan, yang mengalami penurunan sebesar 720 ribu orang dibandingkan dengan penganggur laki-laki yang hanya mengalami penurunan sebesar 201 ribu orang.

Selain itu, tambahnya, jumlah pekerja perempuan dari Agustus 2006-Agustus 2007 bertambah 3,30 juta, terbesar di sektor pertanian dan perdagangan. Sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 1,17 juta orang terutama di sektor jasa dan konstruksi. "Tingginya peningkatan penduduk perempuan yang bekerja di samping karena dorongan ekonomi, kemungkinan juga karena semakin terbukanya kesempatan bekerja bagi kaum perempuan," tuturnya.

Peningkatan jumlah tenaga kerja perempuan, ujarnya, sebagian besar berasal dari perempuan yang sebelumnya berstatus mengurus rumah tangga (bukan angkatan kerja). Selain itu, peningkatan jumlah tenaga kerja perempuan terjadi di kegiatan informal, katanya, memberikan indikasi adanya kemudahan keluar masuk ke pasar kerja.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, jumlah orang yang termasuk setengah pengangguran (orang yang bekerja di bawah 35 jam per minggu) menunjukkan kecenderungan yang meningkat pada Agustus 2007 (30,37 juta orang) dibandingkan Februari 2007 (30,24 juta orang) maupun keadaan Agustus 2006 (29,10 juta orang). "Oleh sebab itu, maka sebenarnya jumlah penduduk yang ’under employment’ (tidak punya pekerjaan tetap-red) sebenarnya 40,38 juta orang (36,73 persen-red)," katanya.

Dijelaskannya, penambahan jumlah penduduk yang bekerja selama setahun terakhir, tertinggi terjadi pada sektor perdagangan (1,34 juta orang) diikuti sektor pertanian (1,07 juta orang) dan jasa kemasyarakatan (664 ribu orang).

Berdasarkan status pekerjaan, pada Agustus 2007, sekitar 69 tenaga kerja masih bekerja di sektor informal. "Peningkatan tenaga kerja dengan status ’pekerja tidak dibayar’ yang cukup tinggi dibanding Agustus 2006 (1,11 juta orang-red), menjadi sesuatu hal yang dapat memperkuat dugaan bahwa unsur "keterpaksaan" dalam bekerja menjadi semakin kuat," katanya.

Dia mencontohkan, istri yang membantu suami berdagang merupakan contoh pekerja yang tidak dibayar. "Jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2006, terjadi penurunan angka pengangguran di sebagian besar provinsi, kecuali tiga propinsi yaitu Sumatera Selatan, DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Timur yang mengalami kenaikan," katanya.

Berdasarkan wilayah, tingkat pengangguran tertinggi terjadi di wilayah Provinsi Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta, yaitu masing-masing 15,75 persen, 13,08 persen, dan 12,57 persen. Sedangkan provinsi dengan tingkat pengangguran terkecil terjadi adalah Nusa Tenggara Timur 3,72 persen. Dan jumlah pekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari delapan jam perminggu, katanya, hanya 1,05 juta orang atau 1 persen dari keseluruhan jumlah penduduk bekerja. (ANT/EDJ)

Selasa, 01 Januari 2008

Ciuman Bahayakan Penderita Alergi


Ciuman Bahayakan Penderita Alergi




Bagi orang yang mengidap alergi, pengertian istilah safe sex, atau berhubungan seks secara aman, perlu diperluas sehingga menjadi lebih dari sekadar kondom dan penyakit menular seksual.

Pertanyaan "Di rumahku atau di rumahmu?" mungkin akan tergantung pada jawaban atas pertanyaan: "Apakah kamu punya kucing?" Begitu pula orang yang alrgi terhadap kacang, kenari, atau produk-produk yang menggunakan kacang, barangkali juga perlu bertanya, "Apa saja yang kamu makan selama enam jam ini?"

Orang yang alergi terhadap kacang, tutur Dr. Rosemary Hallett dalam pertemuan tahunan ke 59 American College of Allergy, Asthma, and Immunology, pertengahan November ini, akan mengalami reaksi bila mereka berciuman dengan seseorang yang baru saja makan bahan pemicu alergi tersebut.

"Dalam kuisioner yang diisi pengidap alergi kacang, 5 persen menyatakan alergi mereka muncul setelah mereka berciuman dengan seseorang yang sebelumnya makan sejenis kacang," papar Hallett, ahli alergi dan imunologi dari University of California-Davis.

Kuisioner yang diisi oleh 440 responden itu dirancang untuk mengetahui jenis-jenis paparan yang membuat pengidap alergi rawan. Selain suami-isteri, pria dan wanita yang masih lajang, kanak-kanak yang sering dicium saudara atau kakek dan neneknya juga dipandu ikut mengisi kuisioner.

Satu hal yang membuat periset kaget adalah, meski makanan pemicu alergi sudah cukup lama dimakan, yaitu enam jam, tapi bagi pengidap alergi, makanan (alergen) itu ternyata masih sanggup memicu reaksi alergi pada diri mereka. Padahal menurut peneliti, di antara suami-istri pengisi kuisioner, sebelum berciuman sudah melakukan tindakan pencegahan terlebih dahulu seperti gosok gigi atau berkumur dengan pembersih mulut.
Meski begitu, itu semua toh tidak mempan. Di antara responden yang masih mampu mengingat tindakan yang mereka lakukan begitu alergi mereka kumat, 10 orang langsung menelan antihistamine untuk meredakan reaksi alergi mereka. Sedang satu anak yang mengalami reaksi anaphylactic, harus menjalani perawatan darurat di rumahsakit.

"Ini merupakan paparan yang perlu diketahui oleh pengidap alergi kacang. Mereka perlu memastikan agar keluarga dan temannya tahu bahwa mereka bisa terkena penimbul alergi lewat ciuman seseorang yang baru memakan makanan yang mengandung penimbul alergi tersebut," kata Hallett.



Sumber: Gaya Hidup Sehat

Ilmuan Korsel Kloning Babi Dari Sel Induk



Ilmuwan Korsel Kloning Babi dari Sel Induk


SEOUL, Kompas, JUMAT, 28 Des 2007 - Terobosan dalam bidang kloning kembali dicapai para ilmuwan di Korea Selatan dengan keberhasilannya menggandakan babi menggunakan sel induk. Kloning dengan sel induk menjanjikan karena dapat meningkatkan peluang keberhasilan kloning.

Selama ini, embrio hasil kloning dibuat dari sel somatik (bagian tubuh). Peluang keberhasilan kloning dengan sel somatik hanya 5 persen. Sementara, dengan sel induk peluang keberhasilan terbentuknya embrio bisa ditingkatkan hingga 20 persen.

"Ini metode yang sangat efisien untuk menghasilkan babi kerdil kloning," ujar Seong Hwan-hoo, peneliti senior dari National Institute of Animal Science, Korea Selatan. Para peneliti yang dipimpinnya menggunakan sel induk yang diekstrak dari sumsum tulang babi kerdil yang beratnya hanya 60 hingga 80 kilogram saat dewasa.

Empat ekor babi hasil kloning lahir pada 3 Desember 2007 lalu. Salah satunya tidak bertahan hidup, seekor dibunuh untuk analisis DNA, dan dua ekor lainnya hidup normal sampai sekarang.(AFP/WAH)

2008 - Pertarungan Komitmen Dan Momentum

ANALISIS
2008,Pertaruhan Komitmen dan Momentum
Rabu, 02/01/2008

HAMPIRsetiap awal tahun baru,saat-saat kita menilai catatan dan pencapaian tahun sebelumnya, kita justru dirundung kedukaan karena berbagai bencana alam.Tahun ini juga demikian.

Kita melihat banjir dan tanah longsor di berbagai daerah. Berbagai bencana tersebut seakan mengingatkan betapa besar masalah dan tantangan yang sedang kita hadapi, sekaligus suatu pertanda agar kita tak boleh cepat berpuas diri. Paling kurang ada tiga cara untuk menilai suatu prestasi.

Pertama, dengan membandingkan capaian tahun sekarang dengan tahun sebelumnya. Kedua, dengan membandingkan apa yang kita capai dengan apa yang dicapai negara lain yang sebanding. Ketiga, membandingkan capaian dengan target yang diharapkan atau yang seharusnya dapat dicapai. Dengan cara pertama, capaian yang diperoleh selama 2007 lebih baik dibanding 2005 dan 2006.Ekonomi tumbuh sekitar 6,3%,melebihi prestasi 2006 yang hanya 5,5%. Indikator lain juga lebih baik,seperti tingkat inflasi yang lebih rendah, penyaluran kredit yang meningkat, indeks saham yang memecahkan rekor, dan ekspor yang lebih tinggi.

Bila digunakan cara kedua, dengan membandingkan apa yang kita capai dengan sejumlah negara lain, seperti China, India, dan Vietnam, prestasi kita masuk kategori sedang karena negara-negara tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, rata-rata di atas 8%. Negara-negara tersebut ternyata mampu memanfaatkan peluang eksternal-global yang sama dengan lebih baik. Bagaimana bila cara ketiga yang digunakan? Tentu tergantung target dan harapan mana yang kita pilih.

Dengan acuan target APBN, biasanya tidak akan ada selisih besar karena target-target atau yang dalam APBN disebut sebagai asumsi-asumsi, dapat direvisi dan target dinyatakan sebagai rentang (interval estimation). Kalau yang digunakan janji-janji dalam kampanye, maka hampir dipastikan siapa pun akan gigit jari alias kecewa. Sebenarnya, dengan perbaikan mekanisme kerja dan koordinasi antarinstansi, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi. Peran APBN sebagai stimulus ekonomi tidak berjalan maksimal karena pencairan anggaran hampir selalu terlambat.

Pembangunan infrastruktur yang sudah sangat mendesak juga terkendala masalah- masalah internal pemerintahan. Ketiga, membandingkan capaian dengan target yang diharapkan atau yang seharusnya dapat dicapai. Dengan cara pertama, capaian yang diperoleh selama 2007 lebih baik dibanding 2005 dan 2006. Ekonomi tumbuh sekitar 6,3%, melebihi prestasi 2006 yang hanya 5,5%. Indikator lain juga lebih baik, seperti tingkat inflasi yang lebih rendah, penyaluran kredit yang meningkat, indeks saham yang memecahkan rekor, dan ekspor yang lebih tinggi. Bila digunakan cara kedua,dengan membandingkan apa yang kita capai dengan sejumlah negara lain, seperti China, India, dan Vietnam, prestasi kita masuk kategori sedang karena negara-negara tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, rata-rata di atas 8%.

Negara-negara tersebut ternyata mampu memanfaatkan peluang eksternal-global yang sama dengan lebih baik. Bagaimana bila cara ketiga yang digunakan? Tentu tergantung target dan harapan mana yang kita pilih. Dengan acuan target APBN,biasanya tidak akan ada selisih besar karena target-target atau yang dalam APBN disebut sebagai asumsi-asumsi,dapat direvisi dan target dinyatakan sebagai rentang (interval estimation). Kalau yang digunakan janji-janji dalam kampanye, maka hampir dipastikan siapa pun akan gigit jari alias kecewa. Sebenarnya, dengan perbaikan mekanisme kerja dan koordinasi antarinstansi, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi.

Peran APBN sebagai stimulus ekonomi tidak berjalan maksimal karena pencairan anggaran hampir selalu terlambat. Pembangunan infrastruktur yang sudah sangat mendesak juga terkendala masalah-masalah internal pemerintahan. Dalam kasus kayu di Riau, simpang siur kewenangan dan koordinasi antara Departemen Kehutanan dan Kepolisian Daerah menyebabkan hilangnya peluang ekspor bermiliarmiliar dolar. Tentu saja 2007 masih meninggalkan banyak persoalan.

Jangan lupa, di masa Orde Baru kita terbiasa dengan pertumbuhan ekonomi di atas 7%, tetapi tiba-tiba kita dikagetkan betapa kualitas pertumbuhan tersebut sangat buruk, yang akhirnya mengarah pada krisis hebat. Kita tentu tidak ingin mengulangi rute menyakitkan ini lagi. Pertumbuhan tinggi saat itu sangat mengandalkan utang luar negeri (debt-led development), eksploitasi sumber daya alam, dan dikerjakan dengan tingkat efisiensi rendah dalam budaya yang sarat korupsi, kolusi,dan nepotisme (KKN). Dalam kaitan itulah kita tetap menyoroti bagaimana dampak pertumbuhan tersebut bagi kelompok ekonomi menengah-bawah.

Angkaangka pengangguran dan kemiskinan, di luar perdebatan metodologi yang digunakan, tampaknya tetap memprihatinkan. Kelompok ini sangat terpukul dengan berbagai kenaikan harga sepanjang 2007 dan sama sekali tidak terhibur oleh laporan angka inflasi yang rendah. Para penabung kecil juga terus mengalami proses pemiskinan secara sistematis karena bunga riil yang diterima negatif. Usaha kecil semakin kembangkempis dan di banyak bidang tak berdaya menghadapi empasan produk impor. Jumlah mereka yang terlibat dalam kegiatan informal, meski data akurat tak ada, tampak semakin besar, seperti yang dengan mudah bisa kita lihat pada maraknya rumah-rumah kumuh, gubuk liar, jumlah pengamen, pengasong, pengemis, pekerja ojek, wanita penghibur, dan sebagainya.

Pengangguran lulusan sarjana juga semakin mudah terlihat dari membanjirnya surat-surat lamaran kerja yang memperebutkan lowongan kerja terbatas. Sementara pola hidup mewah terus-menerus dipertontonkan oleh kalangan elite. Pesta-pesta di hotel berbintang semakin marak luar biasa. Upacara-upacara seremonial para pejabat di berbagai tingkatan semakin sering kita lihat. Kunjungan-kunjungan Presiden, bahkan untuk melihat banjir sekali pun, disesaki para pejabat yang mungkin meninggalkan tugas utamanya di kantor. Presiden dan Wapres sendiri pernah menyampaikan keprihatinan terhadap pola hidup mewah ini, tetapi mengapa kebiasaan ini tidak juga berubah.

Birokrasi pemerintah juga tetap dipandang bermasalah oleh sebagian besar masyarakat, seperti yang disuarakan oleh para pelaku usaha dalam banyak survei.Tampaknya prinsip birokrat ”Kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah, kalau bisa diperpanjang mengapa diperpendek”masih kuat tertanam. Birokrasi lebih minta dilayani bukan melayani. Persepsi publik terhadap parlemen, kepolisian, dan lembaga penegak hukum yang dianggap sangat korup juga belum berubah.

Bagaimana dengan 2008? Berbagai kalangan, termasuk lembaga- lembaga internasional, menyatakan pertumbuhan ekonomi global akan menurun, sebagai akibat lanjut dari krisis kredit sektor perumahan (subprime mortgage) di AS dan harga minyak yang masih tidak menentu. Ketegangan perdagangan antarkawasan mungkin juga akan semakin meningkat, seperti kisruh soal subsidi pertanian antara AS dan Eropa atau tuduhan praktik bisnis curang antara AS dan China.

Meski demikian, Asia tetap dipandang sebagai wilayah dengan prospek pertumbuhan terbaik, mengingat China dan India masih merupakan pasar yang sangat potensial. Pembangunan infrastruktur dan realisasi komitmen investasi di sektor riil juga diharapkan semakin menguat pada 2008. Bila ini terjadi, tentu akan memiliki dampak pengganda yang besar terhadap kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Keterbatasan dan kualitas infrastruktur yang ada selama ini dipandang sebagai salah satu kendala sisi penawaran (supply-side constraint) yang mengurangi daya tarik investasi dan peningkatan kapasitas ekonomi nasional untuk bertumbuh.

Pemerintah tentu diharapkan semakin tegas (decisive) untuk mengatasi berbagai kekurangan yang terjadi selama ini, dan mempertahankan momentum untuk hal-hal yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang semakin berkualitas. Partisipasi Indonesia dalam ajang pasar persaingan global juga harus tetap dikawal oleh peran regulatif yang tidak merugikan rakyat banyak.Kebijakan ”lepas tangan” (hands-off economic policy) yang semata-mata memikirkan keselamatan APBN, tetapi yang membuat beban berat diteruskan langsung ke masyarakat, seperti yang terjadi pada kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pungutan pajak, sebisa mungkin harus dilakukan secara sangat hati-hati. Masyarakat luas selalu merindukan kebijakan publik yang tegas berpihak kepada rakyat banyak. Dalam segala keterbatasan dan kekurangannya, mereka selalu menyanyikan lagu rindu kepada para pemimpinnya.
* PROF HENDRAWAN SUPRATIKNO PHD*
*Penulis, Direktur Pascasarjana dan Program Doktor IBII, Jakarta.

Persaingan Tajam Di Bawah Pertumbuhan Sedang Indonesia Tahun 2008

ANALISIS EKONOMI
Persaingan Tajam di Bawah Pertumbuhan Sedang Indonesia Tahun 2008

DJISMAN S SIMANJUNTAK

Bagian yang besar dari berbagai kejadian ekonomi tahun 2008 adalah warisan dari tahun 2007 dan sebelumnya walaupun perhatian kita cenderung semakin terpusat pada perubahan terkini dan futuristik.

Sesama peramal ekonomi ada sejenis konsensus bahwa kinerja ekonomi dunia dalam 2008 akan melemah dibandingkan dengan tahun 2007. Krisis kredit perumahan Amerika Serikat menyeret banyak ekonomi negara lain ke dalam krisis serupa dan resesi berat investasi perumahan memperburuk dampak kenaikan harga komoditas primer, terutama minyak bumi.

Dalam ekonomi dunia seperti itu, Indonesia mencatat dalam 2007 kinerja yang secara keseluruhan patut disebut sebagai kinerja sedang. Sangat mungkin kinerja sedang itu akan bertahan pada 2008.

Beberapa undang-undang memang sudah disahkan, tetapi pelaksanaannya dihambat oleh macam-macam inersia dalam pemerintah dan birokrasi, parlemen ataupun masyarakat legal.

Menguat, tetapi kalah cepat

Ada beberapa alasan untuk menyebut tahun 2007 sebagai tahun kinerja sedang. Pertumbuhan ekonomi memang membaik, tetapi hanya sedikit menjadi 6,5 persen dari 5,48 persen dalam tahun 2006 dan masih tetap jauh di belakang negara China, India, dan kini Vietnam.

Seperti sebelumnya, pertumbuhan terkuat terjadi dalam pengangkutan, telekomunikasi dan listrik, yaitu sektor-sektor nondagang internasional. Sumbangan ekspor bersih memang naik, tetapi berasal terutama dari komoditas primer. Investasi sebagai sumber pertumbuhan hari depan memang menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang menggembirakan.

Sebagai persentase produk domestik bruto, ia naik menjadi 24,4 persen dalam triwulan ketiga 2007. Impor mesin-mesin naik tajam.

Lalu lintas keuangan dan modal asing menunjukkan surplus biarpun tidak besar. Harga saham naik tajam seraya mendorong produksi aset produktif.

Kredit perbankan juga naik 15 persen meski penanaman dana dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang mengindikasikan intermediasi terbalik juga naik dengan kecepatan yang sama.

Sampai Agustus 2007, persetujuan penanaman modal dalam negeri sudah naik 51 persen dibandingkan dengan masa yang sama tahun 2006 dan persetujuan penanaman modal asing naik 213 persen dalam sembilan bulan pertama 2007.

Inflasi bertahan pada tingkat yang jauh di atas tingkat inflasi negara tetangga karena inflasi Indonesia melaju lebih cepat ke arah 7 persen.

Cadangan devisa sudah di atas 50 miliar dollar AS, menandakan neraca pembayaran yang sehat, terutama karena bagian yang lebih besar dari kenaikan ini berasal dari surplus transaksi berjalan.

Sayang, citra yang dikesankan oleh angka-angka di atas harus dikeruhkan karena beberapa hal. Pertama, Indonesia menderita pengangguran yang parah, terutama pengangguran terselubung.

Kedua, warga miskin dan warga di pinggir kemiskinan di Indonesia masih tetap sangat banyak.

Ketiga, inersia pemerintahan pusat dan daerah, manajemen BUMN dan BUMD, parlemen dan masyarakat hukum masih lebih kuat dibandingkan dengan terobosan-terobosan kebijakan.

Keempat, dalam perlombaan pembangunan Asia Timur, Indonesia masih ditinggal semakin jauh oleh negara tetangga yang paling relevan.

Ekonomi dunia melemah

Masih ada dua faktor yang akan memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia tahun 2008 di samping kinerja tahun 2007. Salah satunya adalah melemahnya kinerja ekonomi dunia dan ketidakpastian tentang akhir dari ketimpangan makroglobal dewasa ini.

Keadaan bisa memburuk jika jatuhnya sektor perumahan ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan atau kalau harga minyak bumi naik ke 100 dollar AS per barrel dan bertahan di situ.

Sebelum krisis kredit perumahan ini pun, dunia sudah dihantui oleh ketimpangan makro yang struktural. Amerika Serikat di satu pihak hidup selalu dengan pasak yang lebih besar daripada tiang.

Defisit transaksi berjalan AS naik ke 5,6 persen dalam 2007 atau jauh di atas batas 2,5 persen yang dianggap aman. Mendanai defisit ini dengan utang tentu ada batasnya.

Di lain pihak, Asia Timur umumnya, serta Jepang dan "China Raya" di lain pihak, memupuk surplus yang membesar terus. Surplus transaksi berjalan China akan naik menjadi 11,25 persen dari produk domestik bruto tahun 2007.

Biarpun ekonomi dunia melemah, Indonesia dapat saja mengurangi dampak pelemahan itu melalui inovasi kebijakan. Ruang gerak masih terbuka bagi kebijakan fiskal yang lebih ekspansif digabung dengan kebijakan moneter yang juga lebih ekspansif.

Namun, perubahan besar dalam profil kebijakan makro tampak tidak leluasa. Di kalangan menteri-menteri ekonomi tampaknya ada kekhawatiran bahwa kebijakan makro yang lebih ekspansif tidak menolong banyak karena daya serap yang dibatasi oleh inersia dalam politik dan birokrasi.

Gunung yang semakin menjulang tidak dapat dipindahkan dengan cangkul yang semakin tumpul. Dengan sentuhan manajemen, kota-kota utama Indonesia dapat dikoneksi ke kota utama lain dunia pada umumnya dan di Asia Timur khususnya untuk menjadi bagian dari sistem produksi global dan aneka ragam bisnis wisata yang tumbuh pesat di Asia Timur.

Indonesia tidak mempunyai pilihan kecuali menyerang persoalan-persoalan struktural ini kalau hendak memasuki kembali lajur pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan.

Peluangnya tidak besar bahwa persoalan-persoalan struktural itu akan ditangani secara besar-besaran dalam 2008. Karena itu, peluang sukses kebijakan makro yang lebih ekspansif di tengah ekonomi dunia yang melambat juga adalah kecil.

Profil dasar kebijakan Indonesia tahun 2008 tampaknya akan sama saja dengan profil dasar tahun 2007. Jika demikian, guncangan yang dapat datang dari kenaikan harga minyak bisa menjadi pukulan berat bagi Indonesia dengan saldo ekspor migasnya yang sudah mendekati nol.

Hubungan ekonomi AS-China dapat memburuk, tetapi tidak sedemikian jauh hingga Indonesia mendapat durian runtuh berupa relokasi besar-besaran industri-industri Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang yang sekarang mengekspor besar-besaran ke AS.

Di bawah lingkungan global, regional, dan lokal yang disketsakan di atas, Indonesia akan tumbuh sedang-sedang lagi. Tetapi karena ukurannya yang sudah cukup besar, ekonomi yang tumbuh dengan sedang itu akan dipersaingkan dengan semakin tajam sesama peserta lokal, regional, dan global.

Untuk bertahan di dalamnya, para pelaku harus bekerja semakin keras dan kreatif seperti "Ratu Merah".

Sumber: KCM.